
JAKARTA,LM.com- Kondisi fiskal dan moneter Indonesia dinilai kian mengkhawatirkan pascameletusnya perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Ekonom Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, menyatakan konflik di Timur Tengah akan menekan ekonomi nasional melalui jalur energi, kurs, dan arus modal.
Kenaikan harga minyak dunia dan sentimen global yang defensif membuat Indonesia menghadapi tagihan impor migas yang lebih mahal. Hal ini berdampak langsung pada beban subsidi energi dan peningkatan kebutuhan pembiayaan APBN.
“Risiko ini makin besar karena sektor migas Indonesia masih defisit, pada Januari–Juli 2025 defisit perdagangan migas mencapai US$10,41 miliar,” kata Syafruddin kepada Inilah.com, Sabtu (28/3/2026).
Di sisi moneter, tekanan global mendorong pelemahan rupiah dan mempersempit ruang pelonggaran suku bunga. Bank Indonesia (BI) pada Februari 2026 tercatat masih menahan BI-Rate di angka 4,75%. Sementara itu, cadangan devisa Februari 2026 turun menjadi US151,9miliardariUS154,6 miliar pada Januari akibat kebijakan stabilisasi nilai tukar.
“Inflasi inti Februari 2026 juga tercatat 2,63% dan kelompok volatile food 4,64%, sehingga shock energi mudah menular ke harga domestik,” jelasnya.
Syafruddin menegaskan bahwa situasi ini menuntut kebijakan yang lebih disiplin. “Jadi, perang yang memanas akan membuat APBN bekerja lebih keras, sementara kebijakan moneter harus lebih ketat menjaga kredibilitas stabilitas,” ujarnya lagi.
Potensi Rupiah ke Level Rp20.000
Peringatan serupa datang dari Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan. Ia mengingatkan tim ekonomi Kabinet Merah Putih (KMP) untuk waspada terhadap nilai tukar rupiah yang diprediksi bisa merosot hingga level Rp20.000 per dolar AS.
Faktor geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran, dianggap memperburuk indikator tekanan nilai tukar serta ketergantungan Indonesia pada utang luar negeri. “Utamanya dari sisi indikator tekanan nilai tukar rupiah hingga ketergantungan pada utang luar negeri,” kata Anthony di Jakarta, Senin (23/3/2026) belum lama ini
Anthony mengkritik anggapan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia saat ini sudah sangat mumpuni. Meski cadangan devisa melampaui US$150 miliar dan struktur utang didominasi tenor jangka panjang, kondisi riil dianggap tidak seoptimistis narasi yang beredar.
“Indonesia terlena atau tepatnya, diterlenakan oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” pungkas Anthony (Red)