Akibat Aktifitas Tambang, Sungai Kukuba Berubah Jadi Lumpur. Pemprov Malut Didesak Hentikan Produksi PT. Feni Haltim

Bagikan
Sungai berubah Jadi Lumpur

HALTIM,LM.com- Sungai atau Air kali Kukuba yang sebelumya memberi kehidupan bagi warga di dua Desa di teluk Buli yakni Desa Buli Asal dan Walfi, Kecamatan Maba, Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, saat ini diduga kuat terpapar limbah PT. Feni Haltim (FHT) sebagai anak perusahaan PT. Aneka Tambang Tbk (Antam). 

Dugaan tersebut, akibat adanya aktivitas pembangunan industri produksi baterei kendaraan listrik, juga termasuk smelter teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), oleh PT. Feni Haltim (FHT) sebagai anak perusahaan PT. Aneka Tambang Tbk (Antam). Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). 

Pasalnya, Kali Kukubu tak sekedar tempat memana Ikan dan mencari makan, melainkan kali tersebut tempat dimana Ikan bertelur, burung-burung membuat sarang, aneka ragam itulah kali tersebut dilindungi masyarakat, Desa Buli Asal dan Wafli. 

Ketua Salawaku Institut, Said Marsaoly sekaligus aktivis pegiat lingkungan, mengatakan pencemaran Kali Kukuba sudah berulang, sejak Agustus tahun lalu. Namun, tidak ada penanganan dan pemulihan serius di lakukan PT. Feni Haltim (FHT) ditambah lagi lemahnya pengawasan dari Pemerintah Daerah. 

“Ini semua terjadi karena konsultasi ataupun sosialisasi ke Publik terkait Amdal, sama sekali tidak melibatkan warga setempat, seolah-olah warga di dua Desa tidak bermakna, pembahasan Amdal selama ini hanyalah formalitas,”ujar Said, via WhatsApp ke Wartawan newsliputanmalut.com, Rabu, (6/5/2026). 

Said mendesak Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), serta Kementrian terkait lainnya, melalui Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Pemprov-Malut), segera mempertegas, hentikan semua aktivitas produksi PT. Feni Haltim, jika tidak, dipastikan di kemudian hari terulang hal yang sama. 

Beberapa hari lalu, pernyataan menyesatkan di lontarkan oleh seorang Envior PT. Feni Haltim yang mengatakan bahwa ini tidak berpengaruh terhadap Nelayan, Pernyatan demikian mensyaratkan Kali Kukuba di cemari oleh Perusahaan dari anak PT. Antam tersebut. 

“Mungkin dia tidak perna melihat Orang Buli Asal dan Wayafli, yang masih sering memanah ikan di pesisir Kali Kukuba,” tegas Said (pan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!