
Pagi di Desa Soligi Pulau Obi, dimulai dengan kesibukan yang berbeda di setiap sudut desa. Di lahan hortikultura, para perempuan memanen sayuran yang siap dikirim. Di pesisir, nelayan baru saja merapat membawa hasil tangkapan. Tak jauh dari sana, aktivitas mengolah kedelai menjadi tahu dan tempe sudah berlangsung di rumah produksi.
Sepintas, ketiga kegiatan itu tampak berdiri sendiri. Namun di baliknya, ada benang merah yang menghubungkan semuanya: upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan yang bertumpu pada potensi lokal.
Inilah wajah pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan Harita Nickel di Soligi. Tidak berhenti pada pelatihan atau bantuan sesaat, melainkan membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan proses produksi dari hulu hingga hilir sekaligus membuka akses pasar bagi kelompok-kelompok masyarakat.
Perubahan itu paling dirasakan oleh para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Bagi Jahariya, Ketua KWT Soligi, berkebun kini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan sayuran.
“Bukan hanya menanam, kami belajar mulai dari pembibitan, cara merawat tanaman, sampai mengatur jadwal panen,” katanya
Pendampingan yang mereka terima membuat anggota kelompok memahami cara bercocok tanam yang lebih baik sekaligus mengelola usaha secara bersama. Hasil panen berupa kangkung, cabai, tomat, kacang panjang, dan berbagai komoditas hortikultura lainnya kini dipasok secara rutin untuk memenuhi kebutuhan di kawasan operasional Harita Nickel. Kepastian pasar tersebut memberi keyakinan bagi kelompok untuk terus meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen.

Manfaatnya tidak berhenti pada bertambahnya pendapatan. Bagi banyak anggota KWT, kegiatan ini juga membuka ruang bagi perempuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam mendukung ekonomi keluarga.
Hal itu dirasakan Thofiya, Ketua KWT Kawasi. “Kami bersyukur, dari hasil panen ini kami bisa membantu biaya sekolah cucu sampai lulus SMA,” ujarnya
Semangat bertumbuh bersama juga terlihat di pesisir Soligi. Melalui program Soligi Utamakan Nelayan (SUTAN), para nelayan didorong tidak hanya meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga memperkuat kapasitas kelompok, mengelola usaha secara lebih terencana, dan membangun ekonomi yang lebih tangguh. Pendampingan tersebut membantu masyarakat pesisir melihat bahwa nilai ekonomi tidak berhenti ketika ikan didaratkan, melainkan dapat terus ditingkatkan melalui pengelolaan yang lebih baik.
Rantai pemberdayaan itu berlanjut di rumah produksi RUTE, tempat kelompok masyarakat mengolah kedelai menjadi tahu dan tempe. Kehadiran unit usaha ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus menciptakan nilai tambah dari komoditas pangan yang diolah oleh masyarakat sendiri. Produk yang dihasilkan kemudian menjadi bagian dari rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan perusahaan sehingga kelompok memiliki pasar yang lebih stabil.
Meski bergerak di sektor yang berbeda, ketiga program tersebut saling melengkapi. Pertanian, perikanan, dan pengolahan pangan menjadi mata rantai dalam satu ekosistem pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Pendampingan, penguatan kapasitas kelompok, hingga akses pasar dirancang sebagai satu kesatuan agar masyarakat tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Di Soligi, perubahan memang tidak hadir dalam sekejap. Ia tumbuh perlahan dari kebun yang semakin produktif, laut yang terus menghidupi, dan dapur produksi yang memberi nilai tambah. Ketika seluruh mata rantai itu saling terhubung, lahirlah peluang baru bagi masyarakat untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dengan kekuatan yang berasal dari desa mereka sendiri. (Red)