
JAKARTA,LM.com- Ekonom Universitas Andalas (Unand), Prof Syafruddin Karimi menegaskan, pemerintah harus merespons cepat lonjakan harga minyak dunia dengan disiplin fiskal yang tajam. Jangan membiarkan beban subsidi energi melebar tanpa kendali.
Syafruddin mencermati, setidaknya ada tiga langkah yang bisa dilakukan pemerintah. Langkah pertama adalah memperketat penyaluran subsidi dan kompensasi agar tepat sasaran.
“Langkah kedua adalah mengamankan pasokan BBM dan energi melalui manajemen stok, pengadaan yang lebih efisien, dan percepatan substitusi impor,” kata Syafruddin, Sabtu (28/3/2026) dilansir dari Inilah.com
Langkah ketiga, kata dia, yakni memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) agar gejolak energi tidak berubah menjadi kepanikan kurs dan inflasi.
Jika minyak brent bertahan di atas US$110 per barel, kata dia, APBN akan menghadapi tekanan yang cukup kuat. Mulai dari kenaikan subsidi dan kompensasi, sementara nilai tukar (kurs) rupiah bakal rentan melemah, karena kebutuhan valas untuk impor migas bakal melonjak tajam.
“Pelemahan rupiah lalu akan memperbesar biaya impor, mendorong imported inflation, dan menekan harga transportasi, pangan, serta biaya produksi,” tuturnya
Syafruddin menekankan, kalau efek berantainya jelas. Pertama, subsidi membesar, lalu kurs melemah, inflasi naik, hingga ruang belanja produktif pemerintah menyempit.
“Karena itu, strategi terbaik adalah membatasi rambatan shock energi sejak awal melalui subsidi yang presisi, penguatan ketahanan energi domestik, dan stabilisasi rupiah yang konsisten. Sasaran inflasi 2026 tetap 2,5 plus-minus 1 persen, sehingga pengendalian dampak putaran kedua harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Termahal dalam 4 Tahun Terakhir
Harga minyak mentah dunia terbang ke level tertinggi dalam tiga tahun ini. Dunia khawatir terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah, meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan rencana negosiasi dengan Iran.
Merujuk Refinitiv, harga minyak brent yang menjadi acuan global pada perdagangan Jumat (27/3/2026) berada di level US$112,57 per barel, atau naik 4,2 persen. Harga tertinggi sejak 4 Juli 2022 yang mencapai US$113,5 per barel.
Dalam sepekan, harga minyak naik 0,38 persen. Harga minyak WTI sudah menguat selama enam pekan beruntun. Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 atau sebulan terakhir, harganya melesat 55,3 persen.
Sepanjang Maret ini, harga minyak melenting 55,31 persen. Untuk harga bulanan brent kemungkinan akan mengakhiri Maret dengan penguatan lebih dari 50 persen, atau termahal sejak 1990-an. (Red)