Korban Meninggal dan Luka Berat Sped Bela 72 Terbakar Dapat Doi Bantuan Cuman Rp5 Juta Dari Oknum Kepala Dinas

Sped Bela 72

TERNATE,LM.com- Satu persatu mulai terbongkar terkait terbakarnya sped boat Bela 72. Pasca keluhan Seni Saleh yang mengeluhkan sikap pemilik speed boat Bela72 yang saat ini menjabat Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda yang tidak peka dan sering menghindari komitmen dengan berbagai alasan. 

Padahal, awalnya Sherly cukup manis. Tuntutan korban dan keluarga korban Bela72 direspon dengan baik. Namun, berjalannya waktu, janji yang dihembuskan orang nomor satu di Provinsi Maluku Utara ini ke telinga korban hanyalah pepesan kosong. Jangankan merealisasikannya, ketemu big bos hotel Bela Ternate ini pun laksana mencari jarum di dalam tepung. 

Untuk menuju titik temunya, Kejaksaan Negeri Kota Ternate kemudian menginisiasi kedua bela pihak, yaitu Sherly sebagai pemilik speed boat berbanrol ratusan miliaran rupiah bersama nakhodanya yang berstatus tersangka dipertemukan dengan korban dan keluarga korban meninggal melalui forum Restorative Justice (RJ) di Kantor Kelurahan Kalumata, Ternate Selatan.

Uniknya, RJ yang dihadiri langsung Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Utara yang saat itu masih dijabat Sufari tidak membuat Gubernur Maluku Utara empaty dan merealisasikan janjinya kepada korban dan keluarga korban.

Tak terima dengan sikap tak pedulinya Sherly, sejumlah korban pun mulai mengadukan nasib mereka kepada wartawan. Salah satu korban yang sempat dirawat di rumah sakit Luwuk, Sulteng dan kemudian dirujuk ke Jakarta karena mengalami patah tulang di tangan kirinya mengaku kecewa dengan gaya cueknya Sherly.

Menurut korban, yang enggan namanya dipublish, sejak peristiwa naas yang menggemparkan publik itu terjadi, Sherly menjadi asing. Bertemu istri mendiang Benny Laos sangat sulit. Padahal korban hanya ingin menagih janji yang pernah dilafaskannya kepada korban dan keluarga korban.

Pria kekar yang menjadi korban tragedi Bela72 di Kota Bobong, Pulau Taliabu, 12 Oktober 2024 lalu tersebut selama menjadi pasien ledakan tidak mendapat perhatiah dari Sherly selaku pemilik speed boat tersebut

“Dia (Sherly Red) belum kasih apa-apa pa saya. Pernah ada pejabat provinsi yang kasih duit pa Saya dan beberapa orang teman korban 4 atau 5 orang, masing-masing 5 juta lewat transfer. Namanya Pak. Asrul. 3 juta saya pegang, dan 2 juta saya kirim pa saya pe keluarga. Kalau dari Dia (Sherly red) tidak pernah. Ketemu saja susah,” akui pria itu, korban speed boat Bela72 yang meminta namanya dirahasiakan.

Pengakuan korban ini, membuat tanda tanya besar publik. Pasalnya, jika pejabat Pemprov yang disebut korban adalah Asrul Gailea, maka patut dipertanyakan soal kaitan Asrul yang kala itu menjabat Assisten III Bidang Administrasi Umum Setda Pemprov dengan korban serta sumber dananya diperoleh dari mana. Selain itu, apa motivasi dan motif Asrul membantu korban ledakan sementara insiden naas itu terjadi di tengah aktivitas politik.

Kepala Dinas Pertanian Maluku Utara, Asrul Gailea saat dikonfirmasi perwakilan media lewat WhatsApp tidak menggubrisnya. Begitu juga Gubernur Sherly Tjoanda. Lebih memilih bungkam meski telah meminta klarifikasi melalui WA nya (Red)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *