Pada penutupan pasar spot Kamis (30/4/2026), mata uang Garuda melemah Rp20 atau 0,12 persen ke posisi Rp17.346/US$. Ini menjadi pelemahan tiga hari berturut-turut.
Dalam sepekan, rupiah melemah 0,35 persen. Sementara sejak awal tahun, depresiasi mencapai hampir 4 persen dari posisi Rp16.680/US$.
Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah melemah Rp54 atau 0,31 persen ke level Rp17.378/US$. Dalam sepekan, pelemahan mencapai 0,40 persen, dan sejak awal tahun tercatat melemah 3,93 persen dari posisi Rp16.720/US$.
Di kawasan Asia, sejumlah mata uang juga tertekan. Ringgit Malaysia melemah 0,60 persen, dolar Taiwan turun 0,31 persen, dan rupee India melemah 0,11 persen secara harian.
Namun secara tahunan, rupiah masih lebih baik dibanding rupee India yang melemah 5,52 persen maupun peso Filipina yang turun 4,12 persen. Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia melemah 0,16 persen ke level 98,80.
Tekanan terhadap rupiah diduga dipicu oleh dua faktor utama, yakni kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal serta meningkatnya inflasi.
Kenaikan harga minyak dunia pada akhir April 2026 turut memicu potensi kenaikan harga barang. Di sisi lain, pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sehingga berpotensi menambah beban anggaran subsidi energi.
Saat ini, Indonesia masih berstatus net importir energi dengan ketergantungan impor minyak yang tinggi. Kondisi ini membuat impor minyak dan gas menjadi salah satu tekanan utama neraca perdagangan.
Meski neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus, sektor migas tetap defisit. Akibatnya, permintaan dolar AS meningkat signifikan di akhir April, terutama untuk pembayaran impor dan repatriasi dividen perusahaan yang terdaftar di bursa saham.
Sementara itu, peneliti Center of Macroeconomics and Finance Indef, Abdul Manap Pulungan menjelaskan, di sisi lain, cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 berada di level yang dinilai cukup kecil yakni 148,2 miliar dollar AS.
“Memang salah satunya yang harus dilakukan selain intervensi di pasar adalah BI, Kemenkeu, dan KSSK dapat memberikan sinyal yang positif, bukan yang hanya narasi,” kata Pulungan.
Ia menambahkan, masalah rupiah ini bukan hanya masalah dari sisi moneter, tetapi juga masalah fiskal hingga melingkupi ketahanan energi. Fenomena itu, membuat investor urung untuk mengkoleksi portofolio dari Tanah Air.
“Ini menjadi sinyal bagi pemerintah, tingkat kepercayaan investor global sedang menurun yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri,” imbuh dia (red)